Eksistensi Mistik dapat dicerna sebagai keberadaan tertinggi kesadaran manusia, di mana aneka perbedaan (kulit) bakal lenyap, keberadaan melebur ke dalam kesatuan mutlak urusan ikhwal, nilai universalitas, alam kesejatian hidup, atau ketiadaan. Kesadaran tertinggi ini terletak di dalam batin atau ruhaniah, memprovokasi perilaku batiniah (bawa) seseorang, dan selanjutnya mengecat pola pikirnya. Atau sebaliknya, pola pikir sudah dijiwai oleh nilai mistisisme yakni keberadaan kesadaran batin.
Meskipun demikian, keberadaan Mistik yang bahwasannya tidaklah berhenti pada perilaku batin (bawa) saja, lebih utama ialah perilaku jasad (solah). Artinya, mistik bukanlah sebatas teori tetapi lebih kearah pengejawantahan atau mempraktikkan perilaku batin ke dalam kegiatan hidup sehari-harinya dalam bersangkutan dengan sesama manusa dan makhluk lainnya.
Apakah misalnya hendak menjadi seorang agamis, yang melulu terpaku pada simbol-simbol agama/ajaran berupa penampilan fisik, jenis pakaian, teknik bicara, bahasa, gerak-gerik, bau minyak wanginya atau atribut tertentu. Ataukah sebaliknya hendak menjadi seorang praktisi (penghayat) bakal teori-teori tersebut sampai-sampai tidak melulu sekedar berbicara. Hal iini menjadi hak masing-masing orang guna memilih, setiap akan membawa akibat yang berbeda-beda.
Setidaknya terdapat 5 karakteristik yang sangat lekat dari istilah mistis atau mistikisme ini.
Mistisisme ialah persoalan praktek.
Secara keseluruhan, mistisisme ialah aktifitas spiritual.
Jalan dan cara mistisisme ialah cinta kasih sayang.
Mistisisme menghasilkan empiris psikologis yang nyata.
Mistisisme sejati tidak mementingkan diri sendiri.
Jika anda cermati dari kelima ciri mistikisme di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa mistik bertolak belakang dengan sikap klenik, gugon tuhon, bodoh, puritan, irasional. Sebaliknya mistik adalahtindakan atau tindakan yang adiluhung, sarat keindahan, atas dasar desakan dari budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Mistik penuh akan pengalaman-pengalaman spiritual, yaitu sebentuk pengalaman-pengalaman halus, terjadi sinkronisasi antara logika rasio dengan logika batin. Pelaku mistik bisa memahami keberadaan di luar diri (gaib) sebagai fakta yang logis atau masuk akal. Sebab akal sudah mendapat informasi secara runtut, pun memahami rumus-rumus yang terjadi di alam gaib.
Sebagai misal saja, mengapa simpanan duit di Bank tidak terdapat yang hilang di curi makhluk pesugihan, misalnya tuyul atau babi negepet? Atau perhiasan emas di toko emas tidak dapat hilang diboyong sejenis jin atau juga siluman pesugihan?
Secara logis-rasional, makhluk pesugihan yang sering menculik uang atau perhiasan di rumah-rumah warga seharusnya dapat mencuri duit dan perhiasan di kedua lokasi tersebut. Namun prakteknya kedua jenis harta kekayaan itu tidak dapat dicuri oleh makluk gaib sejenis pesugihan manapun. Hal ini jarang sekali terfikirkan atau bikin apa dipikirkan. Kurang gawean po!
Agama maupun Ajaran ialah sebagai sarana menggapai tataran spiritual. Sedangkan spiritual ialah kesadaran tinggi bakal nilai-nilai transenden atau “ketuhanan”. Mistisisme ialah wujud kesadaran dalam laku tindakan konkrit. Dengan adanya kesadaran yang lumayan memadai bakal bagaimana bahwasannya yang terjadi di alam gaib urusan tersebut membuka pola pikir anda sehingga dapat memahami keberadaan kegaiban secara logis. Hal ini menjadikan semua pelaku spiritual mempunyai kemantapan tidak melulu sekedar yakin, namun dapat dikatakan dapat menyaksikan sendiri bagaimana ‘rumus-rumus halus’ bakal bekerja, antara pengetahuan spiritual dengan perbuatan nyata seiring seirama. Bagaikan lirik dengan syairnya. Sastra dengan gendhingnya.
Sinergis dan harmonis antara pengetahuan spiritual dengan perbuatannya tersebut, menjadikan semua pelaku spiritual malah terkesan lebih santun dan mempunyai kepakaan yang tinggi, baik tersebut kepakaan sosial, solidaritas dan toleransi, kepedulian lingkungan social dan alam yang paling mendalam. Perilaku-perilaku yang mengindikasikan sikap bijaksana dan budiman dalam menjalani kehidupan ini ketimbang orang-orang bergaya sok “suci” (kesadaran simbolik) yang terkadang perilakunya lepas kendali, sewenang-wenang dan beringas, emosional dan reaksional. Karena merasa diri menjadi paling kuat sudah menjadi orang yang memegang hak istimewa (privilege) di hadapan Sang Maha.
Narasi panjang tentang makna harfiah mengenai mistik dia atas bisa diambil kesimpulan bahwa “mistik local” atau kearifab lokal ialah laku spiritual menurut falsafah atau pandangan hidup hidup Jawa. Karena yang sangat utama dalam laku spiritual, ialah perilaku didasari oleh cinta kasih dan empiris nyata. Maka, untuk siapapun yang menyatakan menghayati pandangan hidup hidup lokal tetapi perangainya masih gampang terbawa api emosi, angkara murka, sektarian, dan primordialisme, sejatinya mereka ini belum mengetahui secara baik apa tersebut nilai-nilai dalam pandangan hidup hidup.
Mistik lokal adalahbagian dari ribuan mistik yang terdapat di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan kebiasaan di muka bumi mempunyai nilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup. Sekedar contoh, contohnya mistik Islam, dikenal dengan tradisi tasawuf, orang-orang yang menelaah disebut orang-orang zuhud, dan semua sufistik. Mistik Budha atau Budhisme, mistik Hindu atau Hinduisme, dan masih ada ratusan bahkan ribuan lagi banyaknya mistik-mistik di dunia ini.
Mistik lebih luwes jika dikomparasikan dengan agama/ajaran, karena mistik tidak mempermasalahkan apa latar belakang ajaran, agama, kebiasaan orang yang hendak menghayati. Hal tersebut tidak memunculkan resiko terjadinya benturan nilai-nilai, sebab dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman “kulit” bakal dikupas, lalu memungut sisi maknawiahnya yang mempunyai sifat hakekat atau esensial.
Orang Jawa, Hindu, Kristen dan Budha, dapat saja mempelajari ilmu tasawuf. Demikian pula sebaliknya, umat Islam dapat pula mempelajari pandangan hidup hidup Jawa. Hanya saja, kecenderungan dominasi akan menciptakan batasan-batasan tegas untuk para penghayat mistik dengan mistik tersebut sendiri. Bahkan tidak jarang terjadi penghakiman, pencitraan secara subyektif, yang menurut kepentingan.
Jangankan terhadap lintas kebiasaan dan agama, anda ambil misal sederhana saja misalnya, beberapa umat Islam tidak mengizinkan sesama umat Islam lainnya masuk ke dalam distrik mistik Islam. Pelarangan dilaksanakan dengan dalih agama pula, sampai-sampai pelarangan biasanya bekerja secara efektif memborgol dinamika kesadaran umat, yang terjadi ialah umat yang terkesan “agamis” namun sangat kurang mampu pencapaian spiritualnya.
Tentang Kearifan Mistik Lokal
Kepercayaan/ajaran lokal pasti saja tidak memiliki buku suci sebagaimana layaknya seluruh agama-agama yang ada. Karena bukanlah agama tetapi pandangan hidup yang telah turun temurun ribuan tahun, melewati proses asimilasi dan sinkretisme dengan nilai-nilai agama yang pernah terdapat di bumi Nusantara. “Kitab Suci” nya ialah hidup tersebut sendiri. Hidup yang mencakup jagad gumelar. Terdiri dari kehidupan sehari-hari, kesejati di dalam diri, dan apa yang terdapat di dalam lingkungan alam sekitarnya. Semua tersebut disebut sebagai “kitab satra jendra”.
Cara membacanya bukan dengan perkataan lisan, tetapi dengan perlengkapan ngelmu titen yang dilangsungkan turun-temurun. Membaca “kitab sastra jendra” dengan memakai elmu titen, indera yang digunakan ialah indera keenam (six-sense) atau indera batin. Keberhasilannya ditentukan oleh keterampilan seseorang dalam mengubah rahsa-pangrasa yaitu rasajati atau rahsa sejati.
Di samping nilai-nilai kebijaksanaan lokal yang adiluhung, menjadikan nilai-nilai “impor” yang dinilai berbobot | berbobot | berkualitas sebagai bahan baku yang bisa diramu dengan nilai kebijaksanaan lokal. Keuntungannya malah terjadi proses penyempurnaan seperangkat nilai dalam falsafah orang Jawa. Jika di definisikan, mistik Kepercayaan/ajaran lokal adalahhasil dari interaksi nilai-nilai kebijaksanaan lokal yang terjadi semenjak zaman kuno pada masa kebudayaan spiritual animisme, dinamisme, dan monotesime sampai saat ini.
Sikap terbuka, menghargai dan toleransi, serta dasar spiritual cinta kasih sayang menciptakan mudah menerima elemen asing yang positif. Nilai-nilai dalam pandangan hidup hidup Jawa mempunyai sifat fleksibel dan selalu berjuang mengolah nilai-nilai kebudayaan asing yang masuk ke nusantara contohnya Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan sebagainya. Yang terjadi bukanlah kebangkrutan nilai-nilai pandangan hidup Jawa tersebut sendiri, sebaliknya malah mengalami penyempurnaan seiring perjalanan waktu.
Hingga ada anekdot, bila nilai agama masuk hingga mendarah daging, falsafah Jawa bahkan mbalung-sungsum sampai-sampai tidak pernah lapuk dan tidak jarang kali eksis. Tidak melulu pada umur tua, bahkan masyarakat umur muda tidak sedikit pula yang diam-diam menghayati dan mengakui fleksibilitas dan kedalaman pandangan hidup lokal. Seperti kekuatan misterius, terkadang motivasi penghayatan dialami tiba-tiba hadir dengan sendirinya laksana panggilan darah.
Ritual, yang dilaksanakan oleh penghayat pandangan hidup hidup Jawa. Walaupun latar belakang keagamaan masyarakat Jawa berbeda-beda, tetapi mempunyai unsur keserupaan dalam tata seperti ritual Jawaisme. Bedanya hanyalah pada bahasa yang dipakai dalam doa atau mantra. Namun hakekat dari ritual ialah sama saja yaitu bertujuan guna selamatan. Selamatan ialah tata laku guna memohon keselamatan untuk Tuhan Yang Mahakuasa. Sebagai upaya mendekatkan diri untuk yang Mahasuci. Maka dalam ritual tidak sedikit ada ubo rampe, atau kriteria-syarat sesaji, di dalamnya tidak sedikit sekali berisi maksud permohonan doa untuk sang pencipta.
Misalnya pada ketika bulan Ruwah adalahbulan arwah dilakukan acara selamatan nyadran. Bulan ruwah tepatnya satu bulan menjelang bulan puasa, hendaknya orang menghormati para arwah leluhurnya, mendoakannya supaya mendapat lokasi yang mulia, luhur, dan suci. Dibuatlah ketan, kolak dan kue apem, berarti sedaya kalepatan nyuwun pangapunten. Mohon ampunan atas segala kekeliruan semasa hidup.
Apem berarti affuwwun, ialah lambang permohonan ampunan untuk Tuhan. Dilanjutkan acara nyekar atau ziarah dan gotong royong bersih-bersih serta mengasuh makam semua leluhurnya sebagai wujud perbuatan nyata rasa berbakti dan menghormati pepundennya yakni semua leluhurnya. Karena untuk masyarakat mistik Jawa, berbakti untuk orang tua, dilaksanakan tidak saja sekitar masih hidup, tetapi saat telah meninggal dunia juga anak turun tetap mesti berbakti padanya. Tidak ketinggalan pula acara bersih desa, sungai, hutan, sawah, ladang, sebagai format kesadaran diri untuk tidak jarang kali menghargai alam semesta sebagai anugrah terindah Tuhan yang Mahapemurah.
Istilah ritual seringkali ditafsirkan secara tidak cukup proporsional, dirasakan hanya sebatas menjadi basa-basi tradisi yang irasional. Kadang malah dirasakan pula sebagai pekerjaan buang-buang waktu, ongkos dan tenaga alias mubazir. Secara ekstrim ritual dikonotasikan sebagai pekerjaan yang melenceng dari kaidah atau norma. Tuduhan sepihak, sebab tentunya melulu terucap oleh orang-orang yang tidak dapat memahami apa arti yang bahwasannya dari mistik dan ritual.
Padahal, ritual ialah tata laku yang melekat tidak dapat dipisahkan dari masing-masing agama, ajaran, tradisi dan kebiasaan manapun di dunia ini. Dalam Budhisme dan Hinduisme, Islam, Yahudi, Nasrani, Kong Huchu, Sakura, dll tidak sedikit sekali terdapat sekian banyak ritual keagamaan. Mulai dari peringatan hari besar keagamaan sampai berbentuk tradisi agama. Bahkan masyarakat modern, tradisi Barat, masyarakat akademik, masyakarat medik, seluruh mempunyai ritual-rutual eksklusif yang dutujukan guna meraih kesuksesan tergolong keselamatan.
Dalam masyarakat Jawa ritual selamatan atau slametan menjadi mainstream penghayatan perilaku mistik. Di dalamnya ada simbol-simbol atau perlambang berupa sesaji, mantera, ubo rampe, kriteria-syarat tertentu. Semua ubo rampe sesaji berisi arti yang dalam. Adalah keliru besar menafsirkan makna sesaji sebagai pakan setan. Untuk masyarakat Jawa paling mengenal bahwa “setan” atau makhluk halus bukan guna diberi makan, namun harus diperlakukan secara adil dan budiman karena disadari bahwa mereka semua ialah makhluk ciptaan Tuhan juga.
Manusia kemudian tidak boleh bersikap negatif dan destruktif dengan mentang-mentang, semena-mena, takabur, arogan atau sombong untuk makhluk halus. Karena sikap negatif itu melulu akan membuat insan jatuh pada derajat yang hina. Itulah keluhuran pandangan hidup insan yang tidak jarang dituduh sebagai masyarakat engan kesadaran primitif dan tidak masuk akal.
Sesaji adalahbahasa yang dipakai sebagai perangkat komunikasi baik secara vertikal maupun horisontal. Karena dasar dari mistik ialah tindakan nyata, sebagai konsekuensinya mesti menghindari tabiat buruk tong kososong berbunyi nyaring, tetapi tak mau menghayati dalam tindakan sehari-hari. Maka dalam berdoa juga tidak lumayan diucapkan melewati mulut. Rasanya tidak cukup afdhol atau tidak cukup besar tekadnya dalam berdoa bilamana tidak diwujudkan dalam sekian banyak simbol yang ada dalam sesaji.
Misalnya; doa yang pelbagai hendaknya dilaksanakan secara tulus, suci, hati yang “putih bersih” tidak terpolusi nafsu duniawi, dan ditujukan melulu kepada Hyang Widhi atau Yang Mahatunggal. Maka urusan tersebut diwujudkan dalam format tumpeng nasi putih berbentuk kerucut, besar di bawah, runcing di unsur atas. Bubur merah dan bubur putih dalam bancakan weton sebagai emblem ibu dan bapa. Hendaknya anak tidak jarang kali ingat pada pengorbanan orang tua semenjak ia di dalam kandungan ibu, lalu dicetuskan dan dirawat hingga dewasa dan mandiri.
Bubur merah silang bubur putih, merupakan cerminan hubungan ibu dengan bapa diikat dengan tali cinta kasih yang tulus, hingga membuahkan anak sebagai anugrah buah cinta, dicerminkan dalam bubur baro-baro, yaitu bubur putih ditumpangi parutan kelapa dan gula merah. Masih tidak sedikit lagi misal yang dapat anda pelajari satu persatu artinya secara esensial.
Tentang Ilmu Kesaktian Sejati
Kesimpulan dari seluruh itu, adalahilmu metafisika yang transenden dan mempunyai sifat terapan. Perilaku mistik adalahupaya yang ditempuh insan dalam rangka mendekatkan diri untuk Tuhan YME. Mendekatkan diri, atau upaya manunggal kepribadian dengan kehendak Tuhan (sumarah). Sikap sumarah adalahwujud dari sikap manembah untuk YME. Sikap manembah berikut yang menjadi pedoman utama dalam menghayati mistik lokal.
Muara dari perjalanan spiritual pelaku mistik tersebut, tidak beda untuk mengejar “lautan” rahmatNya, berupa manunggaling kawula kalawan Gusti, atau sifat roroning atunggil (dwi tunggal). Eneng ening guna masuk ke alam sunya ruri. Meraih nibbana menggapai nirvana, jalan wushul mengarah ke wahdatul wujud. Dengan pencapaian pamoring kawula-Gusti, akan membuat ketenangan batin sekalipun menghadapai kondisi dan situasi yang paling gawat. Karena antara insan sebagai mahluk dengan “Tuhan” sebagai Sang Pencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin insan selalu tersambung dengan getaran energiNya, menjadi dasar atas segala perbuatan yang dilakukannya. Atau diistilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair.
Sesotya ialah ungkapan yang mengumpamakan sang pencipta laksana permata yang tiada taranya. “Permata” yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasad manusia, yang “bersemayam” di dalam batin (immanen), melimputi semua alam semesta ini. Jika manusia sukses manembah, otomatis ia bakal menjadi insan yang sekti mandraguna. Kesaktian sejati, bukan berasal dari usaha yang instan melulu dengan rapal wirid semalam suntuk, atau melakukan pembelian dengan mahar. Namun kesaktian itu didapatkan seseorang bilamana berhasil menghayati sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair.
Seseorang tidak jarang kali manembah dalam masing-masing perbuatannya. Ciri khas orang yang kesaktiannya berkat manembah (kesaktian sejati) bilamana perilaku dan tindakan sehari-harinya tidak jarang kali sinergis dengan sifating Gusti; Welas tanpa alis (kebaikan tanpa pamrih jasad/nafsu/duniawi), tidak menyakiti hati, tidak mencelakai, dan merugikan orang lain. Dilakukan dalam kurun masa-masa lama, tidak angin-anginan atau plin-plan, dilaksanakan secara konsisten, teguh, dan sarat ketulusan serta kasih sayang tanpa pilih kasih. Nuwun.
SUMBER akarasa.com
Meskipun demikian, keberadaan Mistik yang bahwasannya tidaklah berhenti pada perilaku batin (bawa) saja, lebih utama ialah perilaku jasad (solah). Artinya, mistik bukanlah sebatas teori tetapi lebih kearah pengejawantahan atau mempraktikkan perilaku batin ke dalam kegiatan hidup sehari-harinya dalam bersangkutan dengan sesama manusa dan makhluk lainnya.
Apakah misalnya hendak menjadi seorang agamis, yang melulu terpaku pada simbol-simbol agama/ajaran berupa penampilan fisik, jenis pakaian, teknik bicara, bahasa, gerak-gerik, bau minyak wanginya atau atribut tertentu. Ataukah sebaliknya hendak menjadi seorang praktisi (penghayat) bakal teori-teori tersebut sampai-sampai tidak melulu sekedar berbicara. Hal iini menjadi hak masing-masing orang guna memilih, setiap akan membawa akibat yang berbeda-beda.
Setidaknya terdapat 5 karakteristik yang sangat lekat dari istilah mistis atau mistikisme ini.
Mistisisme ialah persoalan praktek.
Secara keseluruhan, mistisisme ialah aktifitas spiritual.
Jalan dan cara mistisisme ialah cinta kasih sayang.
Mistisisme menghasilkan empiris psikologis yang nyata.
Mistisisme sejati tidak mementingkan diri sendiri.
Jika anda cermati dari kelima ciri mistikisme di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa mistik bertolak belakang dengan sikap klenik, gugon tuhon, bodoh, puritan, irasional. Sebaliknya mistik adalahtindakan atau tindakan yang adiluhung, sarat keindahan, atas dasar desakan dari budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Mistik penuh akan pengalaman-pengalaman spiritual, yaitu sebentuk pengalaman-pengalaman halus, terjadi sinkronisasi antara logika rasio dengan logika batin. Pelaku mistik bisa memahami keberadaan di luar diri (gaib) sebagai fakta yang logis atau masuk akal. Sebab akal sudah mendapat informasi secara runtut, pun memahami rumus-rumus yang terjadi di alam gaib.
Sebagai misal saja, mengapa simpanan duit di Bank tidak terdapat yang hilang di curi makhluk pesugihan, misalnya tuyul atau babi negepet? Atau perhiasan emas di toko emas tidak dapat hilang diboyong sejenis jin atau juga siluman pesugihan?
Secara logis-rasional, makhluk pesugihan yang sering menculik uang atau perhiasan di rumah-rumah warga seharusnya dapat mencuri duit dan perhiasan di kedua lokasi tersebut. Namun prakteknya kedua jenis harta kekayaan itu tidak dapat dicuri oleh makluk gaib sejenis pesugihan manapun. Hal ini jarang sekali terfikirkan atau bikin apa dipikirkan. Kurang gawean po!
Agama maupun Ajaran ialah sebagai sarana menggapai tataran spiritual. Sedangkan spiritual ialah kesadaran tinggi bakal nilai-nilai transenden atau “ketuhanan”. Mistisisme ialah wujud kesadaran dalam laku tindakan konkrit. Dengan adanya kesadaran yang lumayan memadai bakal bagaimana bahwasannya yang terjadi di alam gaib urusan tersebut membuka pola pikir anda sehingga dapat memahami keberadaan kegaiban secara logis. Hal ini menjadikan semua pelaku spiritual mempunyai kemantapan tidak melulu sekedar yakin, namun dapat dikatakan dapat menyaksikan sendiri bagaimana ‘rumus-rumus halus’ bakal bekerja, antara pengetahuan spiritual dengan perbuatan nyata seiring seirama. Bagaikan lirik dengan syairnya. Sastra dengan gendhingnya.
Sinergis dan harmonis antara pengetahuan spiritual dengan perbuatannya tersebut, menjadikan semua pelaku spiritual malah terkesan lebih santun dan mempunyai kepakaan yang tinggi, baik tersebut kepakaan sosial, solidaritas dan toleransi, kepedulian lingkungan social dan alam yang paling mendalam. Perilaku-perilaku yang mengindikasikan sikap bijaksana dan budiman dalam menjalani kehidupan ini ketimbang orang-orang bergaya sok “suci” (kesadaran simbolik) yang terkadang perilakunya lepas kendali, sewenang-wenang dan beringas, emosional dan reaksional. Karena merasa diri menjadi paling kuat sudah menjadi orang yang memegang hak istimewa (privilege) di hadapan Sang Maha.
Narasi panjang tentang makna harfiah mengenai mistik dia atas bisa diambil kesimpulan bahwa “mistik local” atau kearifab lokal ialah laku spiritual menurut falsafah atau pandangan hidup hidup Jawa. Karena yang sangat utama dalam laku spiritual, ialah perilaku didasari oleh cinta kasih dan empiris nyata. Maka, untuk siapapun yang menyatakan menghayati pandangan hidup hidup lokal tetapi perangainya masih gampang terbawa api emosi, angkara murka, sektarian, dan primordialisme, sejatinya mereka ini belum mengetahui secara baik apa tersebut nilai-nilai dalam pandangan hidup hidup.
Mistik lokal adalahbagian dari ribuan mistik yang terdapat di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan kebiasaan di muka bumi mempunyai nilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup. Sekedar contoh, contohnya mistik Islam, dikenal dengan tradisi tasawuf, orang-orang yang menelaah disebut orang-orang zuhud, dan semua sufistik. Mistik Budha atau Budhisme, mistik Hindu atau Hinduisme, dan masih ada ratusan bahkan ribuan lagi banyaknya mistik-mistik di dunia ini.
Mistik lebih luwes jika dikomparasikan dengan agama/ajaran, karena mistik tidak mempermasalahkan apa latar belakang ajaran, agama, kebiasaan orang yang hendak menghayati. Hal tersebut tidak memunculkan resiko terjadinya benturan nilai-nilai, sebab dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman “kulit” bakal dikupas, lalu memungut sisi maknawiahnya yang mempunyai sifat hakekat atau esensial.
Orang Jawa, Hindu, Kristen dan Budha, dapat saja mempelajari ilmu tasawuf. Demikian pula sebaliknya, umat Islam dapat pula mempelajari pandangan hidup hidup Jawa. Hanya saja, kecenderungan dominasi akan menciptakan batasan-batasan tegas untuk para penghayat mistik dengan mistik tersebut sendiri. Bahkan tidak jarang terjadi penghakiman, pencitraan secara subyektif, yang menurut kepentingan.
Jangankan terhadap lintas kebiasaan dan agama, anda ambil misal sederhana saja misalnya, beberapa umat Islam tidak mengizinkan sesama umat Islam lainnya masuk ke dalam distrik mistik Islam. Pelarangan dilaksanakan dengan dalih agama pula, sampai-sampai pelarangan biasanya bekerja secara efektif memborgol dinamika kesadaran umat, yang terjadi ialah umat yang terkesan “agamis” namun sangat kurang mampu pencapaian spiritualnya.
Tentang Kearifan Mistik Lokal
Kepercayaan/ajaran lokal pasti saja tidak memiliki buku suci sebagaimana layaknya seluruh agama-agama yang ada. Karena bukanlah agama tetapi pandangan hidup yang telah turun temurun ribuan tahun, melewati proses asimilasi dan sinkretisme dengan nilai-nilai agama yang pernah terdapat di bumi Nusantara. “Kitab Suci” nya ialah hidup tersebut sendiri. Hidup yang mencakup jagad gumelar. Terdiri dari kehidupan sehari-hari, kesejati di dalam diri, dan apa yang terdapat di dalam lingkungan alam sekitarnya. Semua tersebut disebut sebagai “kitab satra jendra”.
Cara membacanya bukan dengan perkataan lisan, tetapi dengan perlengkapan ngelmu titen yang dilangsungkan turun-temurun. Membaca “kitab sastra jendra” dengan memakai elmu titen, indera yang digunakan ialah indera keenam (six-sense) atau indera batin. Keberhasilannya ditentukan oleh keterampilan seseorang dalam mengubah rahsa-pangrasa yaitu rasajati atau rahsa sejati.
Di samping nilai-nilai kebijaksanaan lokal yang adiluhung, menjadikan nilai-nilai “impor” yang dinilai berbobot | berbobot | berkualitas sebagai bahan baku yang bisa diramu dengan nilai kebijaksanaan lokal. Keuntungannya malah terjadi proses penyempurnaan seperangkat nilai dalam falsafah orang Jawa. Jika di definisikan, mistik Kepercayaan/ajaran lokal adalahhasil dari interaksi nilai-nilai kebijaksanaan lokal yang terjadi semenjak zaman kuno pada masa kebudayaan spiritual animisme, dinamisme, dan monotesime sampai saat ini.
Sikap terbuka, menghargai dan toleransi, serta dasar spiritual cinta kasih sayang menciptakan mudah menerima elemen asing yang positif. Nilai-nilai dalam pandangan hidup hidup Jawa mempunyai sifat fleksibel dan selalu berjuang mengolah nilai-nilai kebudayaan asing yang masuk ke nusantara contohnya Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan sebagainya. Yang terjadi bukanlah kebangkrutan nilai-nilai pandangan hidup Jawa tersebut sendiri, sebaliknya malah mengalami penyempurnaan seiring perjalanan waktu.
Hingga ada anekdot, bila nilai agama masuk hingga mendarah daging, falsafah Jawa bahkan mbalung-sungsum sampai-sampai tidak pernah lapuk dan tidak jarang kali eksis. Tidak melulu pada umur tua, bahkan masyarakat umur muda tidak sedikit pula yang diam-diam menghayati dan mengakui fleksibilitas dan kedalaman pandangan hidup lokal. Seperti kekuatan misterius, terkadang motivasi penghayatan dialami tiba-tiba hadir dengan sendirinya laksana panggilan darah.
Ritual, yang dilaksanakan oleh penghayat pandangan hidup hidup Jawa. Walaupun latar belakang keagamaan masyarakat Jawa berbeda-beda, tetapi mempunyai unsur keserupaan dalam tata seperti ritual Jawaisme. Bedanya hanyalah pada bahasa yang dipakai dalam doa atau mantra. Namun hakekat dari ritual ialah sama saja yaitu bertujuan guna selamatan. Selamatan ialah tata laku guna memohon keselamatan untuk Tuhan Yang Mahakuasa. Sebagai upaya mendekatkan diri untuk yang Mahasuci. Maka dalam ritual tidak sedikit ada ubo rampe, atau kriteria-syarat sesaji, di dalamnya tidak sedikit sekali berisi maksud permohonan doa untuk sang pencipta.
Misalnya pada ketika bulan Ruwah adalahbulan arwah dilakukan acara selamatan nyadran. Bulan ruwah tepatnya satu bulan menjelang bulan puasa, hendaknya orang menghormati para arwah leluhurnya, mendoakannya supaya mendapat lokasi yang mulia, luhur, dan suci. Dibuatlah ketan, kolak dan kue apem, berarti sedaya kalepatan nyuwun pangapunten. Mohon ampunan atas segala kekeliruan semasa hidup.
Apem berarti affuwwun, ialah lambang permohonan ampunan untuk Tuhan. Dilanjutkan acara nyekar atau ziarah dan gotong royong bersih-bersih serta mengasuh makam semua leluhurnya sebagai wujud perbuatan nyata rasa berbakti dan menghormati pepundennya yakni semua leluhurnya. Karena untuk masyarakat mistik Jawa, berbakti untuk orang tua, dilaksanakan tidak saja sekitar masih hidup, tetapi saat telah meninggal dunia juga anak turun tetap mesti berbakti padanya. Tidak ketinggalan pula acara bersih desa, sungai, hutan, sawah, ladang, sebagai format kesadaran diri untuk tidak jarang kali menghargai alam semesta sebagai anugrah terindah Tuhan yang Mahapemurah.
Istilah ritual seringkali ditafsirkan secara tidak cukup proporsional, dirasakan hanya sebatas menjadi basa-basi tradisi yang irasional. Kadang malah dirasakan pula sebagai pekerjaan buang-buang waktu, ongkos dan tenaga alias mubazir. Secara ekstrim ritual dikonotasikan sebagai pekerjaan yang melenceng dari kaidah atau norma. Tuduhan sepihak, sebab tentunya melulu terucap oleh orang-orang yang tidak dapat memahami apa arti yang bahwasannya dari mistik dan ritual.
Padahal, ritual ialah tata laku yang melekat tidak dapat dipisahkan dari masing-masing agama, ajaran, tradisi dan kebiasaan manapun di dunia ini. Dalam Budhisme dan Hinduisme, Islam, Yahudi, Nasrani, Kong Huchu, Sakura, dll tidak sedikit sekali terdapat sekian banyak ritual keagamaan. Mulai dari peringatan hari besar keagamaan sampai berbentuk tradisi agama. Bahkan masyarakat modern, tradisi Barat, masyarakat akademik, masyakarat medik, seluruh mempunyai ritual-rutual eksklusif yang dutujukan guna meraih kesuksesan tergolong keselamatan.
Dalam masyarakat Jawa ritual selamatan atau slametan menjadi mainstream penghayatan perilaku mistik. Di dalamnya ada simbol-simbol atau perlambang berupa sesaji, mantera, ubo rampe, kriteria-syarat tertentu. Semua ubo rampe sesaji berisi arti yang dalam. Adalah keliru besar menafsirkan makna sesaji sebagai pakan setan. Untuk masyarakat Jawa paling mengenal bahwa “setan” atau makhluk halus bukan guna diberi makan, namun harus diperlakukan secara adil dan budiman karena disadari bahwa mereka semua ialah makhluk ciptaan Tuhan juga.
Manusia kemudian tidak boleh bersikap negatif dan destruktif dengan mentang-mentang, semena-mena, takabur, arogan atau sombong untuk makhluk halus. Karena sikap negatif itu melulu akan membuat insan jatuh pada derajat yang hina. Itulah keluhuran pandangan hidup insan yang tidak jarang dituduh sebagai masyarakat engan kesadaran primitif dan tidak masuk akal.
Sesaji adalahbahasa yang dipakai sebagai perangkat komunikasi baik secara vertikal maupun horisontal. Karena dasar dari mistik ialah tindakan nyata, sebagai konsekuensinya mesti menghindari tabiat buruk tong kososong berbunyi nyaring, tetapi tak mau menghayati dalam tindakan sehari-hari. Maka dalam berdoa juga tidak lumayan diucapkan melewati mulut. Rasanya tidak cukup afdhol atau tidak cukup besar tekadnya dalam berdoa bilamana tidak diwujudkan dalam sekian banyak simbol yang ada dalam sesaji.
Misalnya; doa yang pelbagai hendaknya dilaksanakan secara tulus, suci, hati yang “putih bersih” tidak terpolusi nafsu duniawi, dan ditujukan melulu kepada Hyang Widhi atau Yang Mahatunggal. Maka urusan tersebut diwujudkan dalam format tumpeng nasi putih berbentuk kerucut, besar di bawah, runcing di unsur atas. Bubur merah dan bubur putih dalam bancakan weton sebagai emblem ibu dan bapa. Hendaknya anak tidak jarang kali ingat pada pengorbanan orang tua semenjak ia di dalam kandungan ibu, lalu dicetuskan dan dirawat hingga dewasa dan mandiri.
Bubur merah silang bubur putih, merupakan cerminan hubungan ibu dengan bapa diikat dengan tali cinta kasih yang tulus, hingga membuahkan anak sebagai anugrah buah cinta, dicerminkan dalam bubur baro-baro, yaitu bubur putih ditumpangi parutan kelapa dan gula merah. Masih tidak sedikit lagi misal yang dapat anda pelajari satu persatu artinya secara esensial.
Tentang Ilmu Kesaktian Sejati
Kesimpulan dari seluruh itu, adalahilmu metafisika yang transenden dan mempunyai sifat terapan. Perilaku mistik adalahupaya yang ditempuh insan dalam rangka mendekatkan diri untuk Tuhan YME. Mendekatkan diri, atau upaya manunggal kepribadian dengan kehendak Tuhan (sumarah). Sikap sumarah adalahwujud dari sikap manembah untuk YME. Sikap manembah berikut yang menjadi pedoman utama dalam menghayati mistik lokal.
Muara dari perjalanan spiritual pelaku mistik tersebut, tidak beda untuk mengejar “lautan” rahmatNya, berupa manunggaling kawula kalawan Gusti, atau sifat roroning atunggil (dwi tunggal). Eneng ening guna masuk ke alam sunya ruri. Meraih nibbana menggapai nirvana, jalan wushul mengarah ke wahdatul wujud. Dengan pencapaian pamoring kawula-Gusti, akan membuat ketenangan batin sekalipun menghadapai kondisi dan situasi yang paling gawat. Karena antara insan sebagai mahluk dengan “Tuhan” sebagai Sang Pencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin insan selalu tersambung dengan getaran energiNya, menjadi dasar atas segala perbuatan yang dilakukannya. Atau diistilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair.
Sesotya ialah ungkapan yang mengumpamakan sang pencipta laksana permata yang tiada taranya. “Permata” yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasad manusia, yang “bersemayam” di dalam batin (immanen), melimputi semua alam semesta ini. Jika manusia sukses manembah, otomatis ia bakal menjadi insan yang sekti mandraguna. Kesaktian sejati, bukan berasal dari usaha yang instan melulu dengan rapal wirid semalam suntuk, atau melakukan pembelian dengan mahar. Namun kesaktian itu didapatkan seseorang bilamana berhasil menghayati sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair.
Seseorang tidak jarang kali manembah dalam masing-masing perbuatannya. Ciri khas orang yang kesaktiannya berkat manembah (kesaktian sejati) bilamana perilaku dan tindakan sehari-harinya tidak jarang kali sinergis dengan sifating Gusti; Welas tanpa alis (kebaikan tanpa pamrih jasad/nafsu/duniawi), tidak menyakiti hati, tidak mencelakai, dan merugikan orang lain. Dilakukan dalam kurun masa-masa lama, tidak angin-anginan atau plin-plan, dilaksanakan secara konsisten, teguh, dan sarat ketulusan serta kasih sayang tanpa pilih kasih. Nuwun.
SUMBER akarasa.com