LEGENDA RADEN KAMANDAKA,LUTUNG KASARUNG

Legenda Raden Kamandaka atau dikenal sebagai Lutung Kasarung dikisahkan dalam sejumlah versi. Cerita inilah ini adalahversi kisah rakyat Lutung Kasarung dari Kebumen Jawa Tengah yang divisualisasikan di Obyek Wisata Goa Jatijajar. Kisah ini berawal pada zaman dahulu Raja Kerajaan Pajajaran yakni Prabu Siliwangi mempunyai 3 orang putra dan 1 orang putri dari dua permaisuri. Pangeran Banyak Cotro dan Pangeran Banyak Ngampar ialah putra prabu Siliwangi dari permaisuri yang kesatu. Kemudian saat permaisurinya meninggal, prabu Siliwangi menikah lagi dengan putri Kumudaningsih yang mencetuskan pangeran Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas.

Suatu hari prabu Siliwangi memanggil pangeran Banyak Cotro dan Banyak Ngampar guna menghadap. “Anakku, aku merasa telah saatnya aku memberikan tampuk kerajaan ini untuk penerusku. Karena kalian berdua ialah anakku yang sangat tua, maka aku bakal menyerahkannya pada di antara dari kalian,” ujar prabu Siliwangi. “Ayahanda,” kata pangeran Banyak Cotro. “Ananada belum merasa layak menerima tanggung jawab ini. Karena masih tidak sedikit kekurangan yang ananda miliki. Seorang raja mestilah budiman sementara ananada belum mempunyai ilmu dan wawasan yang cukup. Lagipula seorang raja mesti telah mempunyai pendamping hidup sedangkan ananda masih bujangan.”

“Kalau begitu sebutkan saja putri yang kau inginkan. Ayah tentu akan segera melamarnya,” kata prabu Siliwangi. “Ampun ayah. Tapi ananda belum inginkan menikah sebelum mengejar seorang putri yang serupa dengan almarhum ibunda,” kata Banyak Cotro. “Wah susah sekali! Dimana kau dapat menemukannya? Dan bagaimana bila sampai tua kau tidak menemukannya?” tanya prabu khawatir.
“Ananada tentu menemukannya ayah. Karena ananda sudah tidak jarang memimpikannya. Bagi itu, ijinkan ananda guna pergi berkelana. Di samping untuk menggali pengalaman, ananda pun akan menggali calon istri nanda,” kata Banyak Cotro. “Hmmm…baiklah! Aku rasa keputusanmu lumayan baik,” kata prabu.

Beberapa hari lantas pangeran Banyak Cotro mengawali perjalanannya. Tujuan kesatunya ialah ke wilayah Tangkuban perahu untuk mendatangi seorang resi yang mempunyai nama Ki Ajar Winarong. Sang resi menurunkan sejumlah ilmunya, dan memberikan tidak sedikit wejangan. Sebelum meneruskan perjalanannya, sang resi mengajak pangeran Banyak Cotro guna menyamar sebagai seorang rakyat biasa dan mengubah namanya menjadi Raden Kamandaka.

Setelah berlangsung berhari-hari, raden Kamandaka mendarat di kabupaten Pasir Luhur. Kebetulan ia bertemu dengan patih Reksonoto yang telah tua dan tidak memiliki anak. Patih Reksonoto paling senang menyaksikan raden Kamandaka. Karena di samping halus budinya, ia pun sangat tampan dan gagah. Maka patih Reksonoto mengusungnya sebagai anak.

Suatu hari patih Reksonoto menuliskan bahwa ia diundang oleh Adipati Kanandoho yang memerintah kabupaten Pasir Luhur, guna ikut menghadiri pesta menciduk ikan di kali Logawa. Raden Kamandaka sudah tidak jarang mendengar ayah angkatnya bercerita tentang keluarga adipati. Ia tahu bahwa adipati itu mempunyai tiga orang putri. Dua yang tertua sudah menikah, bermukim putrinya yang bungsu yakni Dewi Ciptoroso yang masih lajang.
“Ayahanda, bolehkah aku ikut menyaksikan pesta tersebut?” tanya raden Kamandaka.
“Ah sayang sekali, pesta ini melulu dihadiri oleh semua pembesar dan pejabat saja. Tapi beda kali aku tentu akan mengenalkanmu pada adipati,” kata patih Reksonoto.

Diam-diam raden Kamandaka yang hendak sekali menyaksikan pesta itu, mengekor ayah angkatnya. Pesta tersebut dilangsungkan meriah. Semua family adipati ikut turun ke kali dan berebut menciduk ikan. Begitu pula raden Kamandaka. Karena seluruh begitu asyik memburu ikan yang berlarian, tidak seorang pun menyimak kehadiran raden Kamandaka.

Dalam satu peluang secara tidak sengaja, raden Kamandaka bertubrukan dengan dewi Ciptoroso. Raden Kamandaka tertegun dan terpesona menyaksikan dewi Ciptoroso yang wajahnya sangat serupa dengan ibundanya. Ia juga jatuh cinta. Demikian pula dengan dewi Ciptoroso saat menyaksikan pemuda gagah di depannya, ia langsung jatuh hati. Mereka juga berkenalan. Karena fobia perkenalan mereka diketahui oleh ayahnya, dewi Ciptoroso meminta raden Kamandaka guna menemuinya nanti malam di taman Keputren.

Tanpa kendala berarti, raden Kamandaka sukses menemui kekasihnya di taman keputren yang sebenarnya dipertahankan ketat dan dikelilingi tembok tinggi. Mereka saling mencungkil rindu.
“Wahai pemuda yang gagah, katakan padaku, putra siapakah engkau?” tanya Dewi Ciptoroso.
“Aku ialah putra patih Reksonoto,” jawab raden Kamandaka.
Namun kehadirannya segera diketahui oleh semua penjaga kadipaten yang langsung mengejarnya.
Untunglah raden Kamandaka mempunyai ilmu kesaktian yang tinggi sampai-sampai dapat dengan gampang meloloskan diri. Sayang seorang pengawal sempat mendengar identitasnya, sampai-sampai keesokan harinya adipati memanggil patih Reksonoto guna menghadap.
“Patih. Apa kau tahu mengapa aku memanggilmu?” tanya adipati.
“Tidak raden!” jawab patih.
“Apa benar kau mempunyai putra mempunyai nama Kamandaka?” tanya adipati.
“Benar, dia ialah anakku,” jawab patih dengan bangga.
“Anak tersebut tadi malam menyelinap ke kaputren dan mengupayakan menemui putriku. Sungguh tidak cukup ajar. Aku memintamu untuk memberikan dia kini juga. Aku akan menyerahkan hukuman yang paling berat!” bentak adipati.

Patih Resonoto terkejut mendengarnya. Ia tidak percaya anaknya dapat melakukan urusan yang nekad. Patih yang paling menyayangi raden Kamandaka merasa tidak rela anaknya dihukum berat. Maka ia mengajak raden Kamandaka guna pura-pura melawannya ketika akan diangkut ke kadipaten dan menyuruhnya melarikan diri. Raden Kamandaka dalam rangka meloloskan diri, meloncat ke dalam sungai yang deras dan menghilang. Para pengawal yang membawanya berjuang mencarinya di sepanjang sungai namun hasilnya nihil. Akhirnya mereka berkesimpulan bahwa raden Kamandaka sudah mati dan hanyut. Adipati Kanondoho merasa puas, sedangkan dewi Ciptoroso sangat bersedih kehilangan kekasih hatinya.